Makanan Rasulullah s.a.w

"Selera
makan dan minum Rasulullah saw. sangat halus. Baginda saw. sangat gemar
makan daging tulang, daging leher, daging pinggang dan rusuk. Masakan
istimewa orang Arab , sop dimakan bersama roti juga disukai. Madu,
cuka, tembikai, timun, labu, mentega dan beras dimasak bersama kacang
juga disukai. Nabi saw. juga menggemari memasukkan kurma  bersama susu
dan mentega. Baginda saw. tidak suka makanan pedas. Makanan manis
adalah kegemaran Baginda saw.

Nabi saw. tidak makan makanan yang menyebabkan nafas berbau seperti bawang.Ketika
minum ia tidak bersuara dan mengangkat gelas tiga kali  dari bibirnya .
Setiap kali gelas diangkat ia mengucapkan syukur kepada Allah. Selepas
makan Nabi saw. akan membersihkan tangannya dengan membasuh.  Baginda
saw. menyukai orang -orang duduk bersamanya makan. Apabila dibuatkan
sup Nabi saw menyuruh ditambahkan kuah supaya lebih ramai orang dapat
merasainya.
Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari
An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari
makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah
melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja
untuk mengisi perutnya!

Dalam
riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada
suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari
dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian
menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang
didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi
perutnya.

Suatu riwayat yang
diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari
Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW
ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya:
Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau
sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban
beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu.
Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu
Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari
kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia
menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad
meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu
Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam
hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – atau pun
katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra.
berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya
lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang
bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab
Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk
dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu
Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya
sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW
tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap.
Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib
Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari
dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata:
Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan
Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan,
padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata
Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan
air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari
kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah
kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu
sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu
Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk
sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu
atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa
makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun
jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi
memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah
ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh:
Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila
aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa
begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di
mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak
pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam
riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang
dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di
Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak
pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari
berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah
SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma
dan air.
(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam
riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.:
Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan
sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu
mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib
Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia
memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW
selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya
pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam
secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali
ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak
pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti
yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak
pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah
puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi
memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur
malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur
karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya
dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah
ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang
makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau
menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW
meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang
kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah
Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong
roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada
Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari
yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka
Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa,
wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya
tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong
darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu
Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya:
Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah
SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan:
Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak
beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari
meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah
Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan
menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya:
Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung?
Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak
beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu
lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak
terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian
kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal
itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi
memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami
datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat
kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka
Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya
terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu
Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para
sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu
lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada
perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih
makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan
telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan
dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak
orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di
akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid
Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama
sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah
kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk
badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!

(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).


Sudah berapa harikah kita sentiasa kekenyangan
layari

http://tunasislam.blogspot.com/

"

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.